Minggu, 21 Juni 2020


Peran Teknologi Informasi berbasis Cloud Computing dalam Manajemen Rantai Pasok untuk Bersaing pada Industri 4.0
Adelia Chandra Dewi
041711233029
Departemen Manajemen
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga, Surabaya
Abstrak
Purpose – Artikel ini bertujuan untuk menjadi literature mengenai penerapan teknologi berbasis cloud computing pada supply chain management untuk bersaing pada industri 4.0.
Design/Methodology/ApproachArtikel ini meninjau dan mensintesis literature mengenai teknologi informasi berbasis cloud computing pada manajemen rantai pasok untuk bersaing pada industri 4.0 dengan menggunakan metodologi pengumpulan artikel-artikel yang terkait dengan topik. Ulasan sistematis berbeda dari ulasan naratif karena proses yang terlibat dapat ditiru, ilmiah dan transparan.
Originality/Value Studi literatur ini memberikan kontribusi pada literatur melalui analisis beberapa artikel mengenai teknologi informasi cloud computing, serta dapat menjadi panduan untuk penelitian di masa depan.
Findings – Temuan pada penelitian ini adalah bahwasannya penerapan cloud computing pada digital era dapat membantu perusahaan bersaing pada industri 4.0 yang merupakan industri manufaktur pintar, sehingga depan penerapan cloud computing dapat meningkatkan kinerja perusahaan.
Keywords Manajemen rantai pasok, Industri 4.0, proses teknologi, teknologi informasi, cloud computing, era digital
Paper type Literature Review


1.      Introduction
Manajemen rantai pasok merupakan integrasi proses bisnis yang di mulai dari kegiatan penerimaan bahan baku, pengelolaan di setiap rantai aktifitas produksi hingga siap untuk digunakan oleh konsumen akhir. Untuk menjamin keberhasilan penerapan Manajemen Rantai Pasok, perlu dipahami faktor-faktor pendukung keberhasilan pada keseluruhan jaringan rantai termasuk dengan mitra bisnisnya. Dalam praktiknya terdapat dua hal yang paling mempengaruhi kinerja rantai pasok. Kedua hal tersebut adalah kemampuan kolaborasi serta berbagi informasi. Untuk meningkatkan mekanisme pemrosesan informasi, perusahaan dapat membuat kebijakan menyerukan transformasi digital perusahaan, seperti pada prinsip-prinsip revolusi industri keempat (Industri 4.0) (1).
Seperti yang disebutkan pada artikel (2) bahwa industri 4.0 terdiri dari otomasi dan digitalisasi proses yang sangat maju serta dapat membantu dalam menciptakan sistem produksi yang efisien. Teknologi menghasilkan sistem produksi yang dapat membuat keputusan cepat dan memantau proses fisik di era industri 4.0 melalui transmisi real-time dengan manusia, mesin, dan sensor, sehingga industri 4.0 dapat menjadikan pabrik lebih cerdas dan canggih.
Menurut artikel (3), teknologi informasi (TI) berkontribusi pada kolaborasi jaringan SC serta memperkuat kompetisi anggota SC. Hal ini telah menjadikan teknologi informasi sebagai salah satu alat teknologi paling populer yang dapat diimplementasikan secara inovatif di SC. Selain itu, TI dapat secara efektif dieksploitasi ke dalam fungsi operasi dalam aliansi, sehingga menciptakan nilai dan tak dapat ditiru.
Seiring berkembangnya kemampuan teknologi, praktik SCM mengadopsi big data dan analitik bisnis sebagai sarana untuk meningkatkan arus informasi dan pengambilan keputusan, dengan volume tinggi data multidimensi melebihi teknologi informasi tradisional (4). Dengan data besar, kemudian muncullah cloud computing yang berfungsi sebagai penyedia layanan agar pengguna dapat saling berbagi sumber daya dan informasi dengan mudah. Kemajuan ini dapat meningkatkan kinerja rantai pasokan dengan keberhasilan adopsi teknologi tersebut (5). Sistem cloud mengubah sumber daya komputasi (misalnya jaringan, server, penyimpanan, dan aplikasi) menjadi utilitas umum yang dapat disewa dan dirilis oleh pengguna melalui internet secara on-demand.
Artikel ini bertujuan untuk menjadi literature mengenai penerapan teknologi berbasis cloud computing pada supply chain management untuk bersaing pada industri 4.0. Pada bagian 2 merupakan tinjauan literatur atas studi sebelumnya yang telah dikumpulkan dari artikel-artikel yang terkait. Bagian 3 berisi tentang metodologi yang digunakan penulis. Kemudian di bagian 4 merupakan hasil dari artikel ini. Pada bagian 5 merupakan kesimpulan dan limitasi.

2.      Literature Review
Adapun tinjauan literature yang dibahas di paper ini meliputi; Industry 4.0, Digital technology, dan Cloud Computing yang akan dijelaskan secara berurutan melalui 10 artikel yang dipilih.

Industry 4.0
            Artikel (6) menyebutkan bahwa istilah Industri 4.0 diciptakan oleh asosiasi Jerman "Industrie 4.0" pada 2011. Asosiasi ini mengisyaratkan revolusi industri keempat berdasarkan digitalisasi proses perusahaan. Memang, ide utama yang mendasari Industry 4.0 adalah menjalankan bisnis dengan mengadopsi teknologi digital yang dapat membantu perusahaan untuk membuat koneksi antara mesin mereka, sistem pasokan, fasilitas produksi, produk akhir, dan pelanggan untuk mengumpulkan dan berbagi pasar real-time dan operasional informasi.
Pengenalan Industry 4.0 telah terbukti berhasil dalam memberikan berbagai manfaat bisnis termasuk optimasi operasional dan optimalisasi rantai nilai (7). Industri ini memiliki hubungan dekat dengan operasi industri dan teknologi serta automatisasi. Artikel (4) menjelaskan "Industry 4.0." dapat didefinisikan sebagai "manufaktur cerdas" atau "industri terintegrasi." yang memiliki sistem produksi dapat membuat keputusan cepat dan memantau proses fisik melalui transmisi real-time dengan manusia, mesin, dan sensor. Tujuan dari manufaktur cerdas adalah untuk mengoptimalkan sumber daya dengan menggunakan informasi canggih dan teknologi manufaktur.
           
Digital Technology
            Dampak dari era digital baru pada revolusi industri 4.0 membuat logistik produksi dan aplikasi rantai pasokan mengadopsi teknologi informasi dan komunikasi serta arsitektur sistem fisik cyber (CPS) berbasis internet untuk melakukan implementasi dan percepatan inovasi yang diperlukan untuk digitalisasi industri (8).
Pada artikel (6) disebutkan bahwa dalam visi Industri 4.0, digitalisasi proses perusahaan dapat memfasilitasi integrasi fungsi perusahaan dan anggota rantai pasokan, sehingga rantai tersebut menjadi ekosistem yang sepenuhnya terintegrasi yang sepenuhnya transparan bagi semua pemain yang terlibat. Adopsi “teknologi yang memungkinkan” tertentu (mis. Sistem informasi dan teknik analisis Big Data yang ditingkatkan) diperlukan untuk mencapai transformasi digital ini.
           
           
Cloud Computing
            Artikel (9) mendefinisikan cloud sebagai model layanan yang didukung  oleh teknologi informasi dan komunikasi dimana layanan perangkat keras dan perangkat lunak dikirimkan sesuai permintaan kepada pelanggan pengguna akhir melalui Internet dengan cara self-service yang cukup independen dari perangkat dan lokasi.
Saat ini, Cloud Computing (CC) merupakan program yang diperlukan perusahaan untuk mendukung kegiatan dan proses mereka. Cloud computing merupakan perubahan paradigma dalam produksi, pengiriman, dan pembiayaan layanan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang diperlukan perusahaan untuk mendukung kegiatan dan proses mereka: dalam paradigma baru ini, layanan TIK ini tidak diproduksi secara internal oleh perusahaan (10).
Menurut (5), terdapat dua pemeran dalam konteks cloud yang dijelaskan oleh NIST, yaitu: penyedia layanan cloud dan konsumen layanan cloud. Penyedia layanan Cloud menawarkan berbagai model layanan tergantung pada persyaratan perusahaan, sedangkan model layanan dasar menyediakan tiga jenis layanan: infrastruktur, platform, dan layanan perangkat lunak dalam sistem pembayaran berbayar. Cara mengaksesnya dengan melalui internet. Terdapat 3 macam platform pada cloud, yaitu:
·         Perangkat Lunak sebagai Layanan (SaaS) menawarkan kemampuan untuk menyediakan aplikasi yang di-host melalui internet secara on-demand. Dengan SaaS, pengguna tidak perlu menginstal aplikasi atau layanan ke komputer mereka tetapi mereka dapat langsung menggunakannya secara online.
·         Platform as a service (PaaS) menawarkan kemampuan konsumen untuk menyebar ke infrastruktur cloud yang dibuat atau diperoleh oleh pengguna aplikasi yang dibuat menggunakan bahasa pemrograman, perpustakaan, layanan, dan alat yang didukung oleh penyedia. Ini memberikan klien atau pihak ketiga dengan merancang, mengembangkan dan menggunakan aplikasi mereka sendiri. Alih-alih pengguna akhir, staf TI dan pengembang di pihak ketiga adalah konsumen khas layanan PaaS.
·         Infrastruktur sebagai layanan (IaaS) menawarkan kemampuan penyediaan layanan komputasi dalam bentuk penyimpanan, kemampuan pemrosesan, konektivitas jaringan, mesin virtual, dan layanan terkait lainnya di mana konsumen dapat menggunakan infrastruktur dan menjalankan aplikasi.

3.      Methods
Dalam penelitian ini, penulis meninjau beberapa artikel atau literatur mengenai Process Technology Strategy. Artikel-artikel tersebut merupakan artikel yang telah terindeks scopus dan merupakan artikel yang di publish dalam rentang waktu 5 tahun yakni 2015 hingga 2020. Artikel-artikel tersebut diambil dari 2 basis data termasuk Emerald (https://www.emerald.com/insight/), dan ScienceDirect (https://www.sciencedirect.com/). Kata kunci yang digunakan untuk mencari artikel termasuk “technology strategy on scm,” “digital supply chain,” “industry 4.0,” dan “cloud computing” untuk mengidentifikasi artikel dalam kedua basis data. Hal ini digunakan untuk mencari studi sebelumnya yang relevan terkait topik yang dibahas. Prosedur diatas menghasilkan 10 research paper.
Penulis juga mengambil sintesis dari artikel-artikel referensi yang berkaitan dengan topik artikel. Sintesis yang dikaitan berjumlah puluhan sintesis. Pengambilan sintesis dari literature-literature diatas bertujuan untuk melengkapi database penulis.

4.      Result
Dalam penelitian yang ditunjukkan oleh beberapa jurnal, dapat dilihat bahwa terdapat hubungan positif antara teknologi informasi berbasis cloud computing pada persaingan bisnis yang kompetitif di industri 4.0. Organisasi harus menunjukkan kemampuan yang lebih besar untuk menangani tantangan industri baru ini agar tetap kompetitif dan terus bertahan di pasar. Dengan tujuan untuk meningkatkan keuntungan seluruh rantai, maka perusahaan harus mampu menciptakan nilai jaringan yang mengacu pada kemampuan perusahaan untuk mengembangkan hubungan internal dan eksternalnya.
Industri 4.0 menawarkan kemajuan pada bidang teknologi yang memberikan banyak manfaat untuk perusahaan. Pengenalan cloud memberikan manfaat potensial melalui beberapa kemampuan IT yang menjanjikan, mengubahnya menjadi layanan yang dapat dikonsumsi oleh organisasi yang tersebar luas, dengan permintaan dan biaya yang efektif. Industry 4.0 meningkatkan fleksibilitas dalam produksi yang mengarah pada peningkatan kustomisasi produk. Dalam lingkungan seperti itu, mesin akan berkomunikasi satu sama lain untuk pelaksanaan rencana produksi. Sistem pabrik pintar bekerja di latar belakang dan mengetahui benda-benda di lingkungan sekitarnya (7).
Artikel (5) memberikan hasil bahwa dengan pemanfaatan Cloud-Supply Chain Management (C-SCM), pembelajaran pengetahuan di seluruh rantai pasokan, pengambilan keputusan, reaksi dan optimalisasi dapat dicapai. Ada banyak keuntungan dari usulan C-SCM dibandingkan pendekatan SCM konvensional. Visibilitas rantai pasokan end-to-end secara real-time adalah yang paling menjanjikan, yang memberikan dasar bagi sensibilitas permintaan dan berbagai kemampuan lainnya. C-SCM yang diusulkan dapat meningkatkan kolaborasi antar organisasi, fleksibilitas di tingkat infrastruktur, tingkat aplikasi, tingkat proses, tingkat hubungan mitra, dan tingkat struktur biaya ditingkatkan. Berbagai pengecualian, risiko gangguan, dan tren bisnis dapat ditangkap secara real time. Kemampuan pembelajaran pengetahuan dapat mencapai reaksi real-time. C-SCM dapat bermanfaat untuk beberapa proses bisnis, terutama untuk proses-proses yang tersebar luas atau membutuhkan kolaborasi mitra intensif, seperti manajemen logistik, manajemen pembelian, perkiraan perencanaan kolaboratif, dan pengisian ulang. Sejalan dengan hasil dari artikel (10) yang menunjukkan bukti bahwa CC dianggap cukup menguntungkan untuk semua ukuran perusahaan karena beberapa alasan.
            Hasil pengembangan model sistem informasi rantai pasok memberikan kemudahan bagi pelaku rantai pasok industri dalam berbagi informasi, serta untuk mendukung proses kolaborasi antar mitra. Model dikembangkan dengan memanfaatkan komputasi awan (cloud computing), yang dapat dibeli dari penyedia layanan. Model dikembangkan dengan memanfaatkan komputasi awan (cloud computing), dengan tiga platform, yaitu PaaS (Platform as a Service), IaaS (Infrastructure as Service) dan SaaS (Software as a Service) sesuai dengan kebutuhan.

5.      Conclusion and Limitation
Hasil dari kesimpulan akan digambarkan dalam bagan sederhana:
 




Saat ini bisnis bersaing dengan bisnis lain dalam lingkungan yang semakin kompetitif dan serba digital. Hal ini memaksa perusahaan untuk semakin mengatur strategi pada jaringan rantai pasokannya lebih erat. Kelebihan era yang serba digital ini adalah bahwa dapat membuat pekerjaan lebih efektif dan efisien.
Dengan mengadopsi cloud computing dan mengintegrasikan aplikasi-aplikasi tersebut, perusahaan dapat meningkatkan hubungan baik dengan mitra kerjanya serta pelanggan melalui aplikasi SCM. Namun untuk mengadopsi layanan cloud computing, perlu diperhatikan apa kebutuhan perusahaan terkait dengan layanan tersebut sehingga perusahaan dapat sesuai dan tepat dalam mengaplikasikannya. Melalui cloud computing, perusahaan dapat melangkah menuju modernisasi dan meningkatkan efisiensi kinerjanya untuk tetap dapat bersaing secara kompetitif dan secara global.
Kekurangan dari penelitian ini adalah bahwa studi ini sangat terbatas. Tidak mencantumkan contoh implementasi pada perusahaan yang mengadopsi cloud computing. Juga bahasa dan penulisan yang masih tidak sempurna karena ini penulis masih belajar dan mempunyai banyak kekurangan.
Harapan untuk penelitian di masa depan agar dapat membuat karya dari hasil topik ini menjadi lebih baik dan juga disertai penerapan contoh kasus dengan bahasa yang mudah dimengerti untuk pembaca.


REFERENCES

1.        Jede A, Teuteberg F. Towards cloud-based supply chain processes: Designing a reference model and elements of a research agenda. Int J Logist Manag. 2016;27(2):438–62.
2.        Singh RK, Kumar P, Chand M. Evaluation of supply chain coordination index in context to Industry 4.0 environment. Benchmarking. 2019;
3.        Chen SS, Ou-Yang C, Chou TC. Developing SCM framework associated with IT-enabled SC network capabilities. Int J Phys Distrib Logist Manag. 2017;47(9):820–42.
4.        Brinch M, Stentoft J, Jensen JK, Rajkumar C. Practitioners understanding of big data and its applications in supply chain management. Int J Logist Manag. 2018;29(2):555–74.
5.        Giannakis M, Spanaki K, Dubey R. A cloud-based supply chain management system: effects on supply chain responsiveness. J Enterp Inf Manag. 2019;32(4):585–607.
6.        Ardito L, Petruzzelli AM, Panniello U, Garavelli AC. Towards Industry 4.0: Mapping digital technologies for supply chain management-marketing integration. Bus Process Manag J. 2019;25(2):323–46.
7.        Bag S, Telukdarie A, Pretorius JHC, Gupta S. Industry 4.0 and supply chain sustainability: framework and future research directions. Benchmarking. 2018;
8.        Garay-Rondero CL, Martinez-Flores JL, Smith NR, Caballero Morales SO, Aldrette-Malacara A. Digital supply chain model in Industry 4.0. J Manuf Technol Manag. 2019;
9.        Shee H, Miah SJ, Fairfield L, Pujawan N. The impact of cloud-enabled process integration on supply chain performance and firm sustainability: the moderating role of top management. Supply Chain Manag. 2018;23(6):500–17.
10.      Kyriakou N, Loukis EN. Do strategy, processes, personnel and technology affect firm’s propensity to adopt cloud computing?: An empirical investigation. J Enterp Inf Manag. 2019;32(3):517–34.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peran Teknologi Informasi berbasis Cloud Computing dalam Manajemen Rantai Pasok untuk Bersaing pada Industri 4.0 Adelia Chandra Dewi 0...