Peran
Teknologi Informasi berbasis Cloud Computing dalam Manajemen Rantai Pasok untuk
Bersaing pada Industri 4.0
Adelia
Chandra Dewi
041711233029
Departemen
Manajemen
Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga, Surabaya
Abstrak
Purpose
– Artikel ini bertujuan untuk menjadi literature mengenai penerapan teknologi
berbasis cloud computing pada supply chain management untuk bersaing pada
industri 4.0.
Design/Methodology/Approach
– Artikel ini meninjau dan
mensintesis literature mengenai teknologi informasi berbasis cloud computing
pada manajemen rantai pasok untuk bersaing pada industri 4.0 dengan menggunakan
metodologi pengumpulan artikel-artikel yang terkait dengan topik. Ulasan
sistematis berbeda dari ulasan naratif karena proses yang terlibat dapat
ditiru, ilmiah dan transparan.
Originality/Value –
Studi literatur ini memberikan kontribusi
pada literatur melalui analisis beberapa artikel mengenai teknologi informasi
cloud computing, serta dapat menjadi panduan untuk penelitian di masa depan.
Findings
– Temuan pada penelitian ini adalah bahwasannya penerapan cloud computing pada
digital era dapat membantu perusahaan bersaing pada industri 4.0 yang merupakan
industri manufaktur pintar, sehingga depan penerapan cloud computing dapat
meningkatkan kinerja perusahaan.
Keywords
Manajemen rantai pasok, Industri 4.0, proses teknologi, teknologi informasi,
cloud computing, era digital
Paper type
Literature Review
1.
Introduction
Manajemen rantai pasok merupakan integrasi proses
bisnis yang di mulai dari kegiatan penerimaan bahan baku, pengelolaan di setiap
rantai aktifitas produksi hingga siap untuk digunakan oleh konsumen akhir.
Untuk menjamin keberhasilan penerapan Manajemen Rantai Pasok, perlu dipahami
faktor-faktor pendukung keberhasilan pada keseluruhan jaringan rantai termasuk
dengan mitra bisnisnya. Dalam praktiknya terdapat dua hal yang paling
mempengaruhi kinerja rantai pasok. Kedua hal tersebut adalah kemampuan
kolaborasi serta berbagi informasi. Untuk
meningkatkan mekanisme pemrosesan informasi, perusahaan dapat membuat kebijakan
menyerukan transformasi digital perusahaan, seperti pada prinsip-prinsip
revolusi industri keempat (Industri 4.0) (1).
Seperti yang disebutkan
pada artikel (2) bahwa industri 4.0 terdiri dari otomasi dan digitalisasi
proses yang sangat maju serta dapat membantu dalam menciptakan sistem produksi
yang efisien. Teknologi menghasilkan sistem produksi yang dapat membuat
keputusan cepat dan memantau proses fisik di era industri 4.0 melalui transmisi
real-time dengan manusia, mesin, dan sensor, sehingga industri 4.0 dapat
menjadikan pabrik lebih cerdas dan canggih.
Menurut artikel (3), teknologi informasi (TI) berkontribusi pada
kolaborasi jaringan SC serta memperkuat kompetisi anggota SC. Hal ini telah menjadikan
teknologi informasi sebagai salah satu alat teknologi paling populer yang dapat
diimplementasikan secara inovatif di SC. Selain itu, TI dapat secara efektif
dieksploitasi ke dalam fungsi operasi dalam aliansi, sehingga menciptakan nilai
dan tak dapat ditiru.
Seiring berkembangnya kemampuan teknologi, praktik
SCM mengadopsi big data dan analitik bisnis sebagai sarana untuk meningkatkan
arus informasi dan pengambilan keputusan, dengan volume tinggi data
multidimensi melebihi teknologi informasi tradisional (4). Dengan data
besar, kemudian muncullah cloud computing yang berfungsi sebagai penyedia
layanan agar pengguna dapat saling berbagi sumber daya dan informasi dengan
mudah. Kemajuan ini dapat meningkatkan kinerja rantai pasokan dengan
keberhasilan adopsi teknologi tersebut (5). Sistem cloud
mengubah sumber daya komputasi (misalnya jaringan, server, penyimpanan, dan
aplikasi) menjadi utilitas umum yang dapat disewa dan dirilis oleh pengguna melalui
internet secara on-demand.
Artikel ini bertujuan untuk menjadi literature
mengenai penerapan teknologi berbasis cloud computing pada supply chain
management untuk bersaing pada industri 4.0. Pada bagian 2 merupakan tinjauan
literatur atas studi sebelumnya yang telah dikumpulkan dari artikel-artikel
yang terkait. Bagian 3 berisi tentang metodologi yang digunakan penulis.
Kemudian di bagian 4 merupakan hasil dari artikel ini. Pada bagian 5 merupakan
kesimpulan dan limitasi.
2.
Literature
Review
Adapun
tinjauan literature yang dibahas di paper ini meliputi; Industry 4.0, Digital
technology, dan Cloud Computing yang akan dijelaskan secara berurutan melalui
10 artikel yang dipilih.
Industry
4.0
Artikel (6) menyebutkan
bahwa istilah Industri 4.0 diciptakan oleh asosiasi Jerman "Industrie
4.0" pada 2011. Asosiasi ini mengisyaratkan revolusi industri keempat
berdasarkan digitalisasi proses perusahaan. Memang, ide utama yang mendasari
Industry 4.0 adalah menjalankan bisnis dengan mengadopsi teknologi digital yang
dapat membantu perusahaan untuk membuat koneksi antara mesin mereka, sistem
pasokan, fasilitas produksi, produk akhir, dan pelanggan untuk mengumpulkan dan
berbagi pasar real-time dan operasional informasi.
Pengenalan Industry 4.0 telah terbukti berhasil dalam
memberikan berbagai manfaat bisnis termasuk optimasi operasional dan
optimalisasi rantai nilai (7). Industri ini memiliki
hubungan dekat dengan operasi industri dan teknologi serta automatisasi. Artikel
(4) menjelaskan "Industry
4.0." dapat didefinisikan sebagai "manufaktur cerdas" atau
"industri terintegrasi." yang memiliki sistem produksi dapat membuat
keputusan cepat dan memantau proses fisik melalui transmisi real-time dengan
manusia, mesin, dan sensor. Tujuan dari manufaktur cerdas adalah untuk
mengoptimalkan sumber daya dengan menggunakan informasi canggih dan teknologi
manufaktur.
Digital
Technology
Dampak
dari era digital baru pada revolusi industri 4.0 membuat logistik produksi dan
aplikasi rantai pasokan mengadopsi teknologi informasi dan komunikasi serta
arsitektur sistem fisik cyber (CPS) berbasis internet untuk melakukan implementasi
dan percepatan inovasi yang diperlukan untuk digitalisasi industri (8).
Pada artikel (6) disebutkan
bahwa dalam visi Industri 4.0, digitalisasi proses perusahaan dapat
memfasilitasi integrasi fungsi perusahaan dan anggota rantai pasokan, sehingga rantai
tersebut menjadi ekosistem yang sepenuhnya terintegrasi yang sepenuhnya
transparan bagi semua pemain yang terlibat. Adopsi “teknologi yang
memungkinkan” tertentu (mis. Sistem informasi dan teknik analisis Big Data yang
ditingkatkan) diperlukan untuk mencapai transformasi digital ini.
Cloud
Computing
Artikel (9) mendefinisikan
cloud sebagai model layanan yang didukung
oleh teknologi informasi dan komunikasi dimana layanan perangkat keras
dan perangkat lunak dikirimkan sesuai permintaan kepada pelanggan pengguna
akhir melalui Internet dengan cara self-service yang cukup independen dari
perangkat dan lokasi.
Saat ini,
Cloud Computing (CC) merupakan program yang diperlukan perusahaan untuk
mendukung kegiatan dan proses mereka. Cloud computing
merupakan perubahan paradigma dalam produksi, pengiriman, dan pembiayaan layanan
teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang diperlukan perusahaan untuk
mendukung kegiatan dan proses mereka: dalam paradigma baru ini, layanan TIK ini
tidak diproduksi secara internal oleh perusahaan (10).
Menurut (5), terdapat dua
pemeran dalam konteks cloud yang dijelaskan oleh NIST, yaitu: penyedia layanan
cloud dan konsumen layanan cloud. Penyedia layanan Cloud menawarkan berbagai
model layanan tergantung pada persyaratan perusahaan, sedangkan model layanan
dasar menyediakan tiga jenis layanan: infrastruktur, platform, dan layanan
perangkat lunak dalam sistem pembayaran berbayar. Cara mengaksesnya dengan
melalui internet. Terdapat 3 macam platform pada cloud, yaitu:
·
Perangkat
Lunak sebagai Layanan (SaaS) menawarkan kemampuan
untuk menyediakan aplikasi yang di-host melalui internet secara on-demand.
Dengan SaaS, pengguna tidak perlu menginstal aplikasi atau layanan ke komputer
mereka tetapi mereka dapat langsung menggunakannya secara online.
·
Platform
as a service (PaaS) menawarkan kemampuan konsumen untuk
menyebar ke infrastruktur cloud yang dibuat atau diperoleh oleh pengguna
aplikasi yang dibuat menggunakan bahasa pemrograman, perpustakaan, layanan, dan
alat yang didukung oleh penyedia. Ini memberikan klien atau pihak ketiga dengan
merancang, mengembangkan dan menggunakan aplikasi mereka sendiri. Alih-alih
pengguna akhir, staf TI dan pengembang di pihak ketiga adalah konsumen khas
layanan PaaS.
·
Infrastruktur
sebagai layanan (IaaS) menawarkan kemampuan penyediaan
layanan komputasi dalam bentuk penyimpanan, kemampuan pemrosesan, konektivitas
jaringan, mesin virtual, dan layanan terkait lainnya di mana konsumen dapat
menggunakan infrastruktur dan menjalankan aplikasi.
3.
Methods
Dalam penelitian ini, penulis meninjau beberapa
artikel atau literatur mengenai Process Technology Strategy. Artikel-artikel
tersebut merupakan artikel yang telah terindeks scopus dan merupakan artikel
yang di publish dalam rentang waktu 5 tahun yakni 2015 hingga 2020.
Artikel-artikel tersebut diambil dari 2 basis data termasuk Emerald (https://www.emerald.com/insight/),
dan ScienceDirect (https://www.sciencedirect.com/). Kata kunci yang digunakan
untuk mencari artikel termasuk “technology strategy on scm,” “digital supply
chain,” “industry 4.0,” dan “cloud computing” untuk mengidentifikasi artikel
dalam kedua basis data. Hal ini digunakan untuk mencari studi sebelumnya yang
relevan terkait topik yang dibahas. Prosedur diatas menghasilkan 10 research
paper.
Penulis juga mengambil sintesis dari artikel-artikel
referensi yang berkaitan dengan topik artikel. Sintesis yang dikaitan berjumlah
puluhan sintesis. Pengambilan sintesis dari literature-literature diatas
bertujuan untuk melengkapi database penulis.
4.
Result
Dalam penelitian yang
ditunjukkan oleh beberapa jurnal, dapat dilihat bahwa terdapat hubungan positif
antara teknologi informasi berbasis cloud computing pada persaingan bisnis yang
kompetitif di industri 4.0. Organisasi harus menunjukkan kemampuan yang lebih
besar untuk menangani tantangan industri baru ini agar tetap kompetitif dan
terus bertahan di pasar. Dengan tujuan untuk meningkatkan keuntungan seluruh
rantai, maka perusahaan harus mampu menciptakan nilai jaringan yang mengacu
pada kemampuan perusahaan untuk mengembangkan hubungan internal dan
eksternalnya.
Industri 4.0 menawarkan
kemajuan pada bidang teknologi yang memberikan banyak manfaat untuk perusahaan.
Pengenalan cloud memberikan manfaat potensial melalui beberapa kemampuan IT
yang menjanjikan, mengubahnya menjadi layanan yang dapat dikonsumsi oleh
organisasi yang tersebar luas, dengan permintaan dan biaya yang efektif. Industry
4.0 meningkatkan fleksibilitas dalam produksi yang mengarah pada peningkatan
kustomisasi produk. Dalam lingkungan seperti itu, mesin akan berkomunikasi satu
sama lain untuk pelaksanaan rencana produksi. Sistem pabrik pintar bekerja di
latar belakang dan mengetahui benda-benda di lingkungan sekitarnya (7).
Artikel (5) memberikan hasil bahwa dengan pemanfaatan Cloud-Supply
Chain Management (C-SCM), pembelajaran pengetahuan di seluruh rantai pasokan,
pengambilan keputusan, reaksi dan optimalisasi dapat dicapai. Ada banyak
keuntungan dari usulan C-SCM dibandingkan pendekatan SCM konvensional. Visibilitas
rantai pasokan end-to-end secara real-time adalah yang paling menjanjikan, yang
memberikan dasar bagi sensibilitas permintaan dan berbagai kemampuan lainnya. C-SCM
yang diusulkan dapat meningkatkan kolaborasi antar organisasi, fleksibilitas di
tingkat infrastruktur, tingkat aplikasi, tingkat proses, tingkat hubungan
mitra, dan tingkat struktur biaya ditingkatkan. Berbagai pengecualian, risiko
gangguan, dan tren bisnis dapat ditangkap secara real time. Kemampuan
pembelajaran pengetahuan dapat mencapai reaksi real-time. C-SCM dapat
bermanfaat untuk beberapa proses bisnis, terutama untuk proses-proses yang
tersebar luas atau membutuhkan kolaborasi mitra intensif, seperti manajemen
logistik, manajemen pembelian, perkiraan perencanaan kolaboratif, dan pengisian
ulang. Sejalan dengan hasil dari artikel (10) yang menunjukkan
bukti bahwa CC dianggap cukup menguntungkan untuk semua ukuran perusahaan
karena beberapa alasan.
Hasil pengembangan model sistem
informasi rantai pasok memberikan kemudahan bagi pelaku rantai pasok industri
dalam berbagi informasi, serta untuk mendukung proses kolaborasi antar mitra.
Model dikembangkan dengan memanfaatkan komputasi awan (cloud computing), yang
dapat dibeli dari penyedia layanan. Model dikembangkan dengan memanfaatkan
komputasi awan (cloud computing), dengan tiga platform, yaitu PaaS (Platform as
a Service), IaaS (Infrastructure as Service) dan SaaS (Software as a Service)
sesuai dengan kebutuhan.
5.
Conclusion
and Limitation
Hasil dari kesimpulan akan digambarkan dalam bagan
sederhana:
![]() |
Saat ini bisnis bersaing dengan bisnis lain dalam
lingkungan yang semakin kompetitif dan serba digital. Hal ini memaksa
perusahaan untuk semakin mengatur strategi pada jaringan rantai pasokannya
lebih erat. Kelebihan era yang serba digital ini adalah bahwa dapat membuat
pekerjaan lebih efektif dan efisien.
Dengan mengadopsi cloud computing dan
mengintegrasikan aplikasi-aplikasi tersebut, perusahaan dapat meningkatkan hubungan
baik dengan mitra kerjanya serta pelanggan melalui aplikasi SCM. Namun untuk
mengadopsi layanan cloud computing, perlu diperhatikan apa kebutuhan perusahaan
terkait dengan layanan tersebut sehingga perusahaan dapat sesuai dan tepat
dalam mengaplikasikannya. Melalui cloud computing, perusahaan dapat melangkah menuju
modernisasi dan meningkatkan efisiensi kinerjanya untuk tetap dapat bersaing
secara kompetitif dan secara global.
Kekurangan dari penelitian ini adalah bahwa studi
ini sangat terbatas. Tidak mencantumkan contoh implementasi pada perusahaan
yang mengadopsi cloud computing. Juga bahasa dan penulisan yang masih tidak
sempurna karena ini penulis masih belajar dan mempunyai banyak kekurangan.
Harapan untuk penelitian di masa depan agar dapat
membuat karya dari hasil topik ini menjadi lebih baik dan juga disertai
penerapan contoh kasus dengan bahasa yang mudah dimengerti untuk pembaca.
REFERENCES
1. Jede A,
Teuteberg F. Towards cloud-based supply chain processes: Designing a reference
model and elements of a research agenda. Int J Logist Manag. 2016;27(2):438–62.
2. Singh RK,
Kumar P, Chand M. Evaluation of supply chain coordination index in context to
Industry 4.0 environment. Benchmarking. 2019;
3. Chen SS,
Ou-Yang C, Chou TC. Developing SCM framework associated with IT-enabled SC
network capabilities. Int J Phys Distrib Logist Manag. 2017;47(9):820–42.
4. Brinch M,
Stentoft J, Jensen JK, Rajkumar C. Practitioners understanding of big data and
its applications in supply chain management. Int J Logist Manag.
2018;29(2):555–74.
5. Giannakis M,
Spanaki K, Dubey R. A cloud-based supply chain management system: effects on
supply chain responsiveness. J Enterp Inf Manag. 2019;32(4):585–607.
6. Ardito L,
Petruzzelli AM, Panniello U, Garavelli AC. Towards Industry 4.0: Mapping
digital technologies for supply chain management-marketing integration. Bus
Process Manag J. 2019;25(2):323–46.
7. Bag S,
Telukdarie A, Pretorius JHC, Gupta S. Industry 4.0 and supply chain
sustainability: framework and future research directions. Benchmarking. 2018;
8. Garay-Rondero
CL, Martinez-Flores JL, Smith NR, Caballero Morales SO, Aldrette-Malacara A.
Digital supply chain model in Industry 4.0. J Manuf Technol Manag. 2019;
9. Shee H, Miah
SJ, Fairfield L, Pujawan N. The impact of cloud-enabled process integration on
supply chain performance and firm sustainability: the moderating role of top
management. Supply Chain Manag. 2018;23(6):500–17.
10. Kyriakou N,
Loukis EN. Do strategy, processes, personnel and technology affect firm’s
propensity to adopt cloud computing?: An empirical investigation. J Enterp Inf
Manag. 2019;32(3):517–34.
